Kebahagiaan adalah subjek primordial. Itulah sebagian yang akan diulas dalam buku ini, bagaimana mencari kebahagiaan secara praktis, seperti yang tertuang dalam kebijaksanaan nenek moyang, tuntunan agama, maupun penjelasan ilmiah. Kebahagiaan itu merupakan sifat dasar-alamiah atau fitrah manusia dan karena itu sewajarnya bisa—dengan mudah—kita raih.
Buku ini akan memandu Anda untuk mendapat ke-ngeh-an, sehingga Anda dengan lega bisa mengatakan “Ooo … begitu …”, dan begitu terjadi internal-shift pergeseran posisi pandang di dalam, hidup Anda otomatis berubah di luar. Hal-hal yang bersifat spiritual seperti itu, biasanya memang tidak mudah untuk dijelaskan, dan dengan bantuan teknologi gelombang otak DigitalPrayer® Alphamatic buku ini akan menjelaskannya sesederhana dan serasional mungkin untuk Anda.
Bahasan buku ini diarahkan untuk bisa memahami mengapa sikap ikhlas sangat diperlukan dalam hidup ini, dan yang terpenting bagaimana mengenali rasa-nya dan cara-cara (how-to) mencapainya. Sebagian orang menafsirkan ikhlas secara salah. Komponen ikhlas yang terdiri dari sikap syukur, sabar, fokus, tenang dan bahagia, justru dianggap sikap yang lemah. Sikap itu dikhawatirkan akan membuat mereka kurang dihargai orang, tidak tercukupi secara materi, atau tidak tercapainya tujuan hidup karena tidak adanya ambisi. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Dalam kondisi ikhlas—yang sekarang telah dibuktikan secara ilmiah—manusia justru akan menjadi sangat kuat, cerdas dan bijaksana. Kita bisa berpikir lebih jernih, mampu menjalani hidup dengan lebih efektif dan produktif untuk mencapai tujuan. Bahkan hubungan kita dengan siapa pun akan terjalin semakin menyenangkan.
Buku ini membahas bagaimana kita dapat menyeimbangkan antara otak kiri dan otak kanan, di sini dijelaskan juga apabila kita ingin sukses dan mendapatkan apa yang kita inginkan, seharusnya kita fokus pada apa yang kita inginkan dan bukan memikirkan bagaimana caranya supaya keinginan kita itu terwujud, kadang kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya agar keinginan kita terwujud, sehingga menimbulkan rasa khawatir di dalam pikiran dan hati kita, apabila kita meminta dan berdoa pada Tuhan, kita tinggal:
1. Meminta
2. Menerima (seolah-olah keinginan kita telah tercapai)
3. Pasrah